Posted on

Solooooooo

Haloooooooo! How are things guuuuyyyssss?? 😀

Maaf nih baru nge-blog lagi. hehe

Ya, sekarang kita sudah berada di tahun 2014, waktu sepertinya berjalan lebih cepat dari apa yang kita rasakan. Perasaan baru kemarin  gue berada dalam bentuk zygot, eh  sekarang udah mau lulus kuliah aja. Time shouldn’t be running as fast as this. Ya, mau gimana lagi.

Sebelumnya, izinkan gue berterima kasih kepada kalian.  Sejenis makhluk bertulang belakang yang (entah kenapa) rela meyia-nyiakan masa mudanya hanya untuk membaca blog kampret gue ini. Gue berterima-kasih khususnya kepada teman-teman gue yang sudah memberikan testimoninya, baik melalui BBM, watsap, line, twitter, facebook, friendster, omegle, mig33, live connector atau apapun itu. Yang pasti gue merasa senang ketika membaca komentar-komentar kalian. Gue seperti merasakan passion baru waktu melihat temen gue tertawa keras karena membaca blog ini. it’s one of the fun moments that I’ve ever felt. Exactly.

So yeah, beberapa waktu yang lalu gue pergi ke solo kampung halaman nyokap gue, udah lama banget gue ga kesana. Entah kapan terkahir kali gue kesana, yang pasti kota solo dulu berbeda dengan sekarang. Gue kira masyarakat sana masih tinggal di goa-goa, hidup nomaden, berburu binatang, memuja menhir, lalu membuat petunjuk jalan dari rasi bintang. Tapi semua beda total, peradaban telah berkonspirasi mengubah kota ini secara keseluruhan.

Desa nyokap gue itu terletak di ujung kota Solo, nama daerahnya Karang Anyar, sekitar 1 jam dari bandara Adi Sumarmo. Pertama kali, gue fikir kalo kita mau masuk ke Karang Anyar itu perlu menggunakan paspor, pergi ke money changer, menyewa guide, dan memakai pakaian adat sana. Tapi ternyata engga.  Karang Anyar sekarang sudah lebih gaul. Disana sudah banyak anak mobil, wanita berbehel, geng fixie, mesin ATM, dan berbagai jenis ‘cabe-cabean’. -__-

Yang pasti gue seneng banget ada disana, warga di sana ramah-ramah, sopan, jalanan ga macet, bersih, dan yang pasti, tidak ada nama sekolah ataupun gambar alat kelamin di tembok-tembok pinggir jalan disana.

Hampir seminggu gue berada disana, dan selama disana gue banyak mengalami hal baru.

Pertama, ketika solat jumat gue menemui banyak ibu-ibu yang ikut solat jumat disetiap masjid. Hal yang sama sekali tidak gue temui di Jakarta. Setiap jumat ibu-ibu emang udah biasa melakukan solat Jumat, dan yang gue bingung adalah kenapa bapak-bapak disana malah ga banyak yang ikut solat jumat. Apa status gender di sana sudah terbalik? Jangan-jangan disana Ibu-ibu yang pergi bekerja, bapak-bapak cuma dirumah, memasak, mencuci, nonton gosip, dan mungkin juga menyusui. Ya, kita ga pernah tau.

Kedua, konon ketika pergi ke pasar terus kita nawar barang menggunakan bahasa Indonesia dengan logat Jakarta, kita akan di mahalin sama penjualnya. Karena mungkin mindset warga sana menganggap bahwa orang Jakarta itu uangnya agak banyak, padahal belum tentu juga. Dengan bermodal suka mendengarkan lagu keroncong dan sering sering memakai batik jawa, gue merasa mahir berbahasa jawa, masa nawar barang gitu aja ra iso. Ngisin-ngisini!  Finally,  gue mencoba menawar sepasang sandal unyu kepada seoarang nenek-nenek. “Mbah, iki pinten?” kata gue. “Selawe hewu mas!” nenek-nenek penjualnya jawab. Dengan bermaksud sok menawar gue menimpali “Ora iso kurang mbah?”. Lalu mbahnya menjawab

“Walah, iki #@$%%^&&*(^#!(*^%$@!#$%^&**(_)_+)(*^$#!!#!$!%)$_$+$+(%^*@*#^$*$, mas” . Sejenak gue ceming, mau nangis. Gue  ga ngerti apa yang perempuan paruh baya itu katakan, jangan-jangan nenek tua itu ngomong jorok, ngata-ngatain gue, atau mungkin dia sedang berusaha mengutuk gue menjadi sebuah batu. Tanpa bermaksud ingin terlihat bodoh, akhirnya gue langsung mengeluarkan uang empat puluh ribu dan mengambil barangnya sambil mengatakan “Matur suwon mbah!”. Gue ga tau apa arti selawe hewu, kayanya uang gue kurang, atau mungkin lebih. Akhirnya, gue pergi dari sana dengan membawa sepasang sandal dan, kekalahan. Ya, gue merasa hina. T.T

Ketiga. Disana, ketika sudah lewat jam 7 malam kita akan merasa seperti hidup di sebuah hutan, tidak ada lagi kehidupan, peradaban, apalagi pergaulan. Pernah gue di ajak sepupu gue jalan-jalan jam 8 malam. Gue seperti merasa semua tempat yang gue lewatin cocok untuk di jadikan tempat uji nyali. Karena serem banget men! Akhirnya gue memutuskan untuk pergi ke alun-alun. Di alun-alun suasananya sangat beda, disini ramai, terang, dan banyak orang pacaran di depan umum. Entahlah, mungkin disini tidak di atur kewajiban untuk menjaga toleransi dalam berasmara. Disini semua orang berduaan dengan pacarnya, dan gue pun berduaan dengan sepupu gue yang cowok. Tanpa bermaksud ingin terlihat homo, akhirnya gue pergi dari alun-alun dan mampir ke angkringan. Di angkringan indah banget suasananya, kopinya, rotinya, cemilannya, dan juga mba-mba yang jaganya. #eh #SalahFokus

Yang pasti gue suka banget menghabiskan waktu disini, menulis rindu pada secangkir kopi yang sudah terlalu dingin. Coba aja di Jakarta ada tempat sedamai ini, pasti isinya cabe-cabean semua.

Keempat, di hari terakhir di solo gue di ajak ziarah ke makam kakek gue. Seseorang yang gue ga pernah lihat seumur hidup gue. Setelah nyampe di komplek TPU-nya, nyokap gue tiba-tiba terdiam aneh. Dia melamun, pikirannya kosong. Gue panik, gue mencoba menghampiri nyokap dan memegang pundaknya sambil bertanya “Kenapa mah?”. Nyokap gue tetap diam, sunyi, dan baru beberapa saat kemudian dia menjawab “Kuburannya yang mana ya? Aduh, mamah lupa.”  #JLEBB  Seketika ada hening yang panjang.

“Coba Inget-inget lagi mah.” Kata gue dengan suara tampan. Nyokap gue pun mencoba bersikap sotoy. Setelah meng-gambling beberapa kuburan yang mirip, dan menghitung tingkat probabilitas tiap kuburan, akhirnya nyokap gue memilih satu kuburan bernisan merah tua yang sudah agak usang. Lalu kami pun mulai berdoa disana. Setelah berdo’a (bahkan sampai sekarang), gue masih berfikir. Gimana kalo kuburan yang gue do’ain itu salah? Apakah do’a yang gue baca itu nyampe ke orang lain? Kalo emang iya, apakah yang menerima do’a gue itu mau ngembaliin? Setiap arwah kan pasti butuh do’a.

Maka dari itu melalui tulisan ini gue memohon. Siapapun almarhum yang menerima doa gue pada waktu itu, silahkan di kembalikan kepada kakek gue. Terimakasih!

Advertisements

About bausorga

@fikri_soeyono

5 responses to “Solooooooo

  1. ahahha,,,lucu bingit,

    selawe hewu artinya dua puluh lima ribu,fikkk,,,lu gag minta kembaliannya? setahu gue nih yang hidup dari zaman zygot ampe gue hijrah ke kota semodern Jakarta ini, Karanganyar teh kagak ikut Solo, dia kabupaten sendiri. nah rumha gue deket dari situ, fik,,belakangnye gunung Lawu (FYI)

    :p

    mantap tulisannya bikin gigi agag terbuka dikit 🙂

  2. handaelfi

    Haha bang cina sa ae wkkkkk

  3. Reblogged this on fithriimamah and commented:
    Gilaaaa Fikri emang Gilaaaa,, gokil abis,, kepingkal2 gue bacanyaa hahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s