Posted on

Hal-hal absurd yang terjadi di jalanan

Menurut peneilitian, pada tahun 2015 nanti Jakarta akan mengalami kemacetan total. Jadi ketika kita keluar rumah, kita ga bisa kemana-mana lagi karena saking banyaknya mobil ngantri di jalan depan rumah kita . Gimana nanti di tahun 2020 ya? Mungkin ketika kita bangun kesiangan,disamping kita udah ada truk dan cewek-cewek pantura lewat.

Well, sepertinya memang terlalu banyak kendaraan yang melintasi kota ini. Gue ngerasa semakin lama jalanan di Jakarta semakin ga asik buat di lewatin, bahkan dengan kendaraan apapun.

Gue biasa kemana-mana naik motor. Exactly, banyak sekali hal kampret yang akan terjadi ketika kita mengendarai motor di jakarta. Gue pernah menemukan mas mas  yang membahayakan. Dia meyalakan lampu sign-nya ke kiri, tapi beloknya kekanan ngebut nekuk dengan penuh rasa jumawa. Andai saja gue membawa senapan gajah, pasti gue sudah membius mas-mas itu. Belum lagi cobaan ibu-ibu bermotor. pertemuan dengan ibu-ibu yang membawa motor di jalan adalah hal yang lebih menakutkan dari pada bertemu komplotan kapak merah. Karena lo akan melihat dia berjalan di tengah dengan sangat pelan, lalu tiba-tiba belok dengan brutal tanpa sama sekali mengerti kegunaan lampu sign. Dan ketika dia menabrak kita, maka kita tidak akan pernah benar di mata mereka. Oh, God.

Dan hal lain yang mencemari jalanan di Jakarta adalah, munculnya tiga perempuan tanggung yang duduk berhimpitan di dalam sebuah motor, dengan memegang handphone sambil memainkan rambutnya. Mungkin mereka inilah kaum yang sering diceritakan di dalam kitab suci terdahulu. Ya, cabe-cabean.

Entah karena proses adaptasi yang salah atau karena kelebihan kadar kegaulan, yang pasti populasi cabe-cabean di Jakarta semakin lama semakin meningkat, dan spesiesnya pun semakin beragam. Ya, agak mengerikan memang.

Gue juga sering naik sepeda, gue suka sekali bersepeda. Gue mempunyai  dua sepeda. Yang satu gue pake buat olahraga, dan satu lagi buat jualan bakwan malang. Kecintaan gue terhadap sepeda melebihi kecintaan gue terhadap mantan  majikan. Gue punya satu sepeda fixie yang udah gue bawa keliling Jakarta. Gue suka banget naik sepeda ini, gue memberi nama dia Isabel. Banyak kejadian indah yang gue sudah lalui bersama Isabel, gue pernah di tabrak motor, nabrak mobil, di serempet bis, bahkan menabrak motor mobil dan bis secara bersamaan. Sungguh kenangan yang indah. Yang pasti gue ga mau kehilangan Isabel, gue janji sampai kapanpun sepeda ini tidak akan dijual. Ya, tidak akan. Kecuali kalo ada yang nawar harganya bagus.

Alat transportasi umum di Jakarta juga ga kalah menyebalkan. Dulu waktu masih muda, gue suka naik kopaja pas pulang kuliah. Bagi gue, kopaja adalah kotak besar mengerikan yang membuat kita ingat kepada dosa-dosa kita. Sumpah, serem banget men. Cara supir kopaja menjalankan tugasnya benar-benar mengancam keselamatan alam semesta. Satu-satunya hal yang bisa gue lakukan sebagai seorang penumpang adalah… menulis pesan terakhir.

Pernah suatu hari kopaja yang gue naikin berjalan dengan sangat liar, entah apa yang terjadi di luar sana, gue merasa kopaja ini seperti berjalan di atas tembok seperti Traidager- X. Sebagai laki-laki pemberani, gue tidak diam begitu saja, gue melakukan hal yang sangat heroik. Ya, berdoa. Gue membaca al-fatehah dengan penuh keunyuan. Kerana gue sudah kepalang khusu’ (baca: takut) gue memutuskan untuk membaca al-baqoroh sampe annas, dan tafsir-tafsirnya. Setelah sekian lama tersiksa, gue pun turun dari kendaraan neraka itu, dan berkata dengan penuh rasa tidak percaya. “Terimakasih Tuhan, aku masih hidup!!”

Transpotasi umum lain yang terkadang gue suka naik adalah kereta. Pernah suatu hari karena sebuah urusan mendadak gue naik kereta yang paling pagi ke arah Tangerang. Pas gue naik, gue mencium sesuatu yang merusak tatanan ekosistem dunia. Sial, ternyata bau pesing! Gue agak bingung ya, ini kan kereta paling pagi, terus kapan di kencinginnya??

Semakin lama aroma tidak menyenangkan ini semakin tercium. Sepertinya terjadi reaksi kimiawai antara pipis mas-mas stasiun dengan kadar oksigen di dalam ruangan gerbong. Dan, BOOOM!! Gila, baunya semakin liar! Gue mencoba untuk menyelamatkan nyawa gue. Gue tidak mau terbunuh disini. Gue keluar dan mencari gerbong lain dengan konsentrasi kepesingan yang lebih rendah.

Dari sini gue berkesimpulan bahwa, ternyata kereta adalah jenis transportasi yang paling berbahaya. Dan seandainya kemajuan sebuah Negara di tentukan dari seberapa pesing bau pipis masyarakatnya,  mungkin Indonesia sudah menjadi Negara adidaya.

Gue juga lumayan sering naik busway (TransJakarta). Di dalam bis ini lah gue merasakan hal-hal mengerikan yang tidak pernah terlupakan selama hidup. Gue pernah suatu malam pulang naik bis ini, gue duduk dengan tampan di kursi kedua deket pintu masuk utama. Awalnya gue merasakan kenyamanan di dalam bis ini, hingga akhirnya gue sadar di depan gue ada mas-mas berbahel ngondek yang memakai V-Neck merah jambu dengan belahan dada sampe puser. Tidak hanya itu, dia juga duduk dengan congkak di depan gue dan menantap gue dengan penuh rasa manja. Dan karena tatapan itu, sebagai laki-laki gue ngerasa gagal. -__-  Gue pun berkata dalam hati “Oh Bumi, telanlah akuu!!”

Gue pun masih inget ketika gue pulang dari mengajar anak SMAN 28 di pasar minggu. Gue pulang menggunakan busway yang penuh dengan karyawan kantor. Karena tidak dapat tempat duduk, akhirnya gue berdiri persis di depan om-om berkumis tipis  dan berwajah nakal. Pada awalnya gue biasa aja, hingga akhirnya busway yang kita naiki nge-rem mendadak dan om-om di belakang gue memeluk gue dengan penuh kemesraan. Seketika itu gue ngerasa “Oh tidak, Aku kotor Tuhaan!!” Mungkin inilah titik nadir dalam hidup gue. Gue seperti tidak punya masa depan lagi. Gue adalah makhluk kotor. Sesampainya dirumah gue langsung bersimpuh di atas sajadah memohon kebersihan diri dari yang Maha Kuasa.

Dan yang paling menyebalkan dari sebuah busway adalah ketika gue duduk di tengah-tengah remaja tanggung yang sedang memadu kasih. Emang tidak ada yang salah dengan dua orang yang pacaran di dalam busway, hingga si cewek  yang ada di sebelah kanan gue memanggil cowoknya yang ada di sebelah kiri gue. Ayah ada telfon nih!” terus cowonya bilang “Dari siapa bun?” , dan tiba-tiba telinga gue mengeluarkan darah. T.T

Di dalam hati gue berkata“Gilaaaa! Kenapa harus kaya gitu?? Kenapa harus ayah bundaan sih??” Gue mencoba bersikap tenang, dan mencari ide bagaimana caranya mengeluarkan mereka berdua dari busway ini, tidak, bahkan dari Negara ini. Gue mencoba sekuat tenaga menahan diri untuk tidak mempidanakan mereka berdua  dalam kasus pencemaran gelombang suara. Setelah beberapa saat, gue akhirnya sampai di tempat tujuan. Gue lega, senang, gembira, jumawa. Gue seperti melihat  Dewi Kuan Im menunjukan pintu keluar. Akhirnya gue keluar dan mengakhiri penyiksaan ini.

Pesan gue, berhentilah memanggil kekasih anda dengan panggilan ayah atau bunda. Karena jika di dalam sebuah rumah terdapat sepasang kekasih yang memanggil pacarnya ayah bundaan, gue takut 40 rumah di sekitarnya akan mendapat bencana.

Finally, gue berkesimpulan bahwa Jakarta was too small to accommodate the millions of people who live in it. Ya, Jakarta memang sudah terlalu sempit untuk kita semua. Bijaklah memilih kendaraan yang tepat, dan santun lah dalam berkendara. Dan satu lagi, berhati-hatilah dengan om-om berkumis tipis di dalam busway. Sekian..

Advertisements

About bausorga

@fikri_soeyono

2 responses to “Hal-hal absurd yang terjadi di jalanan

  1. elfihanda

    ka coba kirimin deh tuisan2nya ke penerbit yang namanya BUKUNE disitu genre bukunya ini kaya tulisan kaka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s