Posted on

Indonesian People and Mainstream

Terkadang gue berfikir bahawa sebenernya orang Indonesia itu terlampau latah dalam menanggapi sebuah mainstream. Kebanyakan dari kita mudah sekali ikut-ikutan dalam sebuah mainstream yang bahkan kita sendiri tidak mengerti.  Kebanyakan dari kita menemukan sebuah trend baru, memperhatikan, mempelajari lalu secara ‘latah’ menirunya dengan versi kita masing-masing. Di dalam aqidah filsafat, gue biasa menamai ini dengan sebutan “Taklid Buta.”

Well, sekarang gue akan menunjukkan studi gue yang sangat lama (saking lamanya gue sampe bisa ngelupain mantan) tentang bagaimana latahnya orang-orang Indonesia terhadap sebuah mainstream.

1. Girlband Boyband

Menurut gue, girlband adalah sekumpulan cewek-cewek berpakaian seksi, dimana kerjaannya cuma lypsinc sambil joged-joged, dan setelah selesai joged mereka akan bergaya sesuai tingkat keunyuan mereka masing-masing. Dan orang-orang Indonesia, secara latah mulai berlomba membuat girlband. Tapi sayangnya ini  ga sesuai dengan latar belakang masyarakat kita yang agak religius. Untuk mengantisipasi ini, mungkin nanti akan di buat girlband syari’ah. Sekumpulan cewek pake kerudung, nanyiin lagu “Anak Sholeh” versi jazz. Tapi tetep pake rok mini.

Mungkin nanti juga akan ada boyband syariah ya. Sekumpulan cowok nyanyi lagu religi di atas panggung, pake baju muslim, bawa tasbeh, megang siwak, tapi pake mukena. -__-

 2. Batik Bola

Jujur gue ga ngerti sama konsep pakaian yang satu ini. Apa urusannya baju batik sama klub sepak bola?  Kenapa mereka harus memadukan dua buah hal yang saling bertolak belakang, antara baju resmi dan pakaian olahraga? Nanti kan jadinya serba nanggung, mau di pake buat kondangan tapi ga sopan pake baju bola. Mau di pake buat main bola tapi nanti di kira mau ngambil rapot. Dan akhirnya gue berkesimpulan bahwa, baju batik bola adalah baju olahraga yang cocok di pakai untuk ngambil rapot. Keren!

Mungkin setelah baju batik bola laris, nanti juga akan muncul baju koko bola, peci bola, sarung bola, atau malah sajadah bola. Keren kali ya kalo punya sajadah gambar arsenal.

3. Cappuccino Cincau

Gue ga ngerti ya, siapa kampret yang pertama kali menemukan air minum jenis ini. Jenis manusia seperti apa yang kepikiran memadukan antara kopi dengan cincau. Dan yang lebih gue ga terima adalah, kenapa rasanya bisa enak?

Tapi apapun, yang pasti sekarang mulai banyak orang yang ikut-ikutan jual Cappucino cincau ini. Gila ya, orang Indonesia gampang banget ngikut mainstream.

Nanti minuman jenis apa lagi coba yang akan muncul? Kuku bima cincau? Extra Jos cincau? Atau  Air nisfu cincau?

 4. Film Tukang Bubur Naik Haji

Film tukang bubur naik haji adalah film yang menggabungkan imajinasi kita tentang semangkuk  bubur dan dua orang bapak tua yang memakai peci dan saling bermsuhan. Dan gue yakin film ini adalah impilkasi dari proses kelatahan orang Indonesia.

Apa coba yang mendasari terciptanya film ini. Apa rumusan dari masalah film ini?

Ada tukang bubur, terus naik haji?  Yaudaaaah, gitu ajaaaa. Gitu ajaaaaa.

Kenapa harus di bikin film?

Jangan-jangan nanti kalo ada tukang bakso naik haji, di bikin film juga. Kalo tukang martabak naik haji, di bikin film juga. Kalo tukang cimol naik haji, juga di bikin filmnya. Yah gue takut, lama-lama Mekkah isinya orang dagang semua ya.

5. Tukang Lem

Akhir-akhir ini, gue sering banget ngeliat tukang lem jualan di lampu merah. Awalnya gue cuma menemukan di beberapa titik, tapi semakin lama laju pertumbuhan mereka semakin mencuat. Populasi mereka mengalami perkembangan dengan sangat pesat. (Sebagian dari mereka adalah kuli-kuli proyek yang secara part time bekerja sebagai penjual lem.)  Sekali lagi ini adalah akibat orang Indonesia yang terlampau latah dalam mengikuti sebuah mainstream.

Gapapa juga sih sebenernya. Tapi yang gue bingung, dari sekian banyak barang yang bisa di jual di lampu merah, kenapa harus lem? (gue ulangin ya!) KENAPA HARUS  LEM??

Berapa intensitas keseringan seseorang memakai lem? Kapan coba terakhir kali lo pake lem? Dan manusia dengan pola pikir seperti apa yang ketika panas, macet, haus dia malah iseng beli lem?

Maksud gue, kenapa ga jual barang dagangan lain? Jual reksadana misalnya. Kan keren ya kalo jual reksadana di lampu merah, semua orang kan jadi bisa beli. Sambil nungguin lampu merah kan lo bisa sambil dengerin kuli-kuli proyek ngejelasin tentang fluktuasi Indeks Harga Saham gabungan.

Absolutely, ga ada yang salah sama meniru sebuah mainstream yang sedang menjadi trend. Tapi apapun, kita tetep ga perlu jadi orang lain. Yang harus kita lakukan hanya  menjadi diri sendiri. Yah, diri sendiri yang terbaik. *nyisir* *nyiwak*

Advertisements

About bausorga

@fikri_soeyono

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s