Posted on

Kepada Kamu, Yang Mengajarkanku Merindu

Hari ini minggu ke 4, jumat terakhir di bulan desember, dan kau masih juga belum merasakan cintaku. Senja datang lebih awal, kumpulan awan cumulus menurunkan hujan dengan perlahan, seakan membiarkan sepi menyudahi hari.

Ada kalanya setiap orang harus merasakan jatuh cinta, seperti hari ini, 7 pasang burung kenari dan secangkir kopi di sebuah angkringan di ujung jalan membantuku untuk menuliskan rindu demi rindu, yang mungkin takkan pernah selesai.

Kamu cantik, aku suka melihat wajahmu, hal yang menjawab pertanyaan mengapakah aku begitu berbahagia. Mungkin inilah cara Tuhan menulis puisi.. ya, dalam senyummu.

Namun aku belum mau mengungkapkan itu, sama seperti aku belum mau untuk menyempurnakan separuh imanku, dalam cinta suci yang penuh kesyahduan.

Entahlah, ini bukan cuma soal cinta. Ini rumit, serumit menjelaskan teori relativitas modern dengan sebuah persamaan sederhana.

Ternyata benar, cinta melumpuhkan logika, tapi aku benci ini. Aku benci harus senyum-senyum sendirian ketika ada smsmu di telepon genggamku, aku benci salah tingkah ketika berbicara denganmu, aku benci harus begitu bersemangat ketika aku ada di dekatmu, dan aku benci harus jatuh cinta kepadamu. Demi Tuhan, aku benci jatuh cinta, terutama kepada kamu.

Aku tak percaya dengan kebetulan, bagiku jodoh sudah di tentukan oleh Dia yang Maha Menjodohkan. Aku yakin setiap orang mempunyai garis linear jodohnya masing-masing, aku berharap kelak jika Tuhan berkenan, semoga kita mempunyai garis linear yang tegak lurus, sehingga aku tak perlu merubah besaran gradien cintaku, agar cinta kita bisa bersinggungan.

Entahlah, apakah kau meraskan hal yang sama. Sepertinya aku harus mengaudit dirimu, melakukan love of name yang ada di neraca hatimu.

Maybe i don’t know what my future holds, but i wish you’re in it. Yes, you.

Aku tahu aku hanya akan terus begini, cinta diam-diam dan terus berharap. Harapan yang di pelihara sedari kecil, hingga akhirnya membesar dan terus membesar. Walaupun kata orang, terlalu lama memendam perasaan hanya akan menyebabkan penyesalan. Tapi tak apa lah, yang jelas, aku akan selalu merindukanmu hingga gradien terbesar, mencintaimu hingga titik terjauh.

Advertisements

About bausorga

@fikri_soeyono

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s